Api Berkobar di Mendawai Jelang Magrib, 93 Warga Palangka Raya Kehilangan Tempat Tinggal

WWW.LIPUTANKALTENG.ID – PALANGKA RAYA ll Saat sebagian warga bersiap menyambut azan magrib, kobaran api justru memecah ketenangan sore di kawasan Jalan Mendawai Gang Rawa, Komplek Sosial, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah pada, Sabtu (21/02/2026).

Dalam hitungan menit, api berkobar menjalar cepat melahap deretan rumah yang mayoritas berbahan kayu dan berdiri rapat, memicu kepanikan warga yang berlarian menyelamatkan diri serta barang seadanya.

Asap hitam membumbung tinggi di atas permukiman padat tersebut, menjadi penanda betapa cepatnya si jago merah menguasai lokasi. Di tengah kepanikan, warga hanya bisa menyaksikan rumah mereka dilalap api tanpa banyak yang dapat diselamatkan.

Lurah Palangka, Dawid, mencatat sedikitnya 24 (dua puluh empat) kepala keluarga atau 93,(sembilan puluh tiga) jiwa terdampak dalam peristiwa ini. Sebanyak 10,(sepuluh) rumah mengalami kerusakan berat, tiga rumah rusak sedang, dan delapan lainnya rusak ringan.

“Dugaan sementara kebakaran disebabkan korsleting listrik. Dalam kejadian ini tidak ada korban jiwa, namun satu orang mengalami luka bakar,” ujarnya pada, Minggu (22/02/2026).

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kebakaran tersebut meninggalkan kehilangan besar bagi puluhan keluarga yang kini harus menjalani hari-hari tanpa tempat tinggal tetap. Puing-puing arang menjadi saksi bagaimana kehidupan mereka berubah dalam sekejap.

Pihak kelurahan bersama warga segera mendirikan posko darurat dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan pascakebakaran. Para korban sementara mengungsi ke rumah keluarga dan tetangga terdekat sambil menunggu bantuan lanjutan.

Bantuan logistik mulai disalurkan oleh Dinas Sosial Kota Palangka Raya berupa beras, telur, mi instan, serta kebutuhan pokok lainnya guna meringankan beban para penyintas.

Menurut Dawid, kawasan Mendawai memang tergolong rawan kebakaran karena struktur bangunan yang didominasi kayu dan kondisi permukiman yang padat. Ia mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dalam penggunaan listrik, kompor, dan peralatan lain yang berpotensi memicu kebakaran.

Kini, setelah api padam, perjuangan baru dimulai. Bagi 93 jiwa terdampak, yang tersisa bukan hanya puing-puing, tetapi juga tekad untuk bangkit dan membangun kembali kehidupan dari titik nol.

( red )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *